Petugas menata uang rupiah yang disetor ke Pooling Cash Bank Mandiri di Jakarta, Jumat (12/10/2012).
Nilai tukar rupiah akhir-akhir
ini cenderung melemah. Pelemahan ini dinilai tidak sesuai dengan
kondisi fundamental Indonesia yang positif.Ekonom pasar uang
Farial Anwar menjelaskan, kondisi nilai tukar rupiah terus melemah sejak
awal 2012 lalu. Dalam setahun, rupiah terus melemah dari Rp 9.000
menjadi Rp 9.650 per dollar AS. Pada perdagangan kemarin, rupiah
bertengger di level Rp 9.680 per dollar AS. Tertinggi, nilai tukar
rupiah pernah menembus level Rp 9.775 per dollar AS pada 15 Januari
2013.
"Saya sangat prihatin dengan kondisi nilai tukar rupiah saat
ini. Sebenarnya ini terjadi anomali di saat perekonomian Indonesia
positif, tetapi rupiah malah terus melemah," kata Farial kepada
Kompas.com di Jakarta, Rabu (30/1/2013).
Menurut
Farial, penyebab pelemahan rupiah saat ini adalah pertama, permintaan
dollar AS yang sangat tinggi di pasar. Namun, permintaan tersebut
ternyata tidak diimbangi dengan ketersediaan di pasar.
Otomatis,
masyarakat ramai-ramai memburu dollar AS, meski dalam kondisi susah
mendapatkannya. Di sisi lain, masyarakat yang sudah memiliki dollar AS
cenderung menahan asetnya tersebut dan tidak mau melepas ke pasar.
"Jadi, lebih kepada
supply yang tidak bisa mengimbangi
demand pasar," katanya.
Kedua,
Farial menduga adanya isu redenominasi yang cenderung membuat pasar
panik. Masyarakat beranggapan bahwa redenominasi ini sama seperti dengan
sanering (memotong nilai mata uangnya). Padahal, kondisi
tersebut sebenarnya malah sebaliknya. Redenominasi ini hanya
penyederhanaan nilai mata uang yang kini masih terlalu besar.
"Namun, pasar sudah panik duluan dan mereka lebih cepat mengamankan aset dollar AS," tambahnya.
Ketiga,
neraca perdagangan yang terus defisit. Hal ini dipengaruhi oleh impor
migas yang terus membesar. Apalagi harga minyak mentah dunia kali ini
semakin melonjak.
Di sisi lain, asumsi makro pemerintah 2013 hanya
menganggarkan nilai tukar rupiah sekitar Rp 9.300 per dollar AS.
Padahal, nilai tukar rupiah sekarang ini sudah lebih dari itu. "Jika
tidak segera ada tindakan, maka defisit anggaran akan semakin
membengkak. Imbasnya malah semakin fatal ke perekonomian," jelasnya.