Secara historis, sebenarnya banyak ilmu pengetahuan yang sekarang dibanggakan orang-orang kafir itu berasal dari kaum Muslimin pada masa jayanya. Ketika Andalusia diperintah oleh kaum Muslimin, ilmu pengetahuan mencapai kejayaannya, sementara Eropa mengalami kegelapannya. Bahkan, sampai-sampai raja Inggris ketika itu meminta secara khusus agar khalifah waktu itu mengizinkan beberapa utusannya untuk belajar pada kaum Muslimin di Andalusia tentang beberapa ilmu pengetahuan.
Namun, kita tidak boleh tenggelam oleh kenangan kejayaan masa lalu. Justru seharusnya kita mengambil pelajaran dari sejarah. Kalaulah boleh dikatakan bahwa umat Islam sekarang ibarat perumpamaan yang telah disabdakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa kita akan diperebutkan oleh umat-umat lain ibarat orang-orang menyerbu makanan di sebuah piring besar. Bukan karena jumlah umat Islam sedikit, tetapi karena kualitas kita yang tidak sesuai dengan kuantitas kita. Kita banyak, tetapi kualitas kita sedikit. Bukan hanya masalah ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga masalah pengetahuan umat terhadap Islam dan ajarannya. Sejujurnya harus diakui bahwa mayoritas umat ini tidak mengerti dengan baik ajaran agamanya yang sempurna ini. Kelemahan yang dikatakan Rasulullah sebagai penyebabnya ternyata benar adanya. Hal itu adalah cinta dunia dan takut mati. Ditambah lagi, satu penyakit batin yang tak kalah bahayanya, yaitu merasa rendah dan hina dihadapan orang-orang kafir dan takjub akan segala kemajuan mereka dalam kehidupan dunia ini.
Firman Allah Ta'ala yang artinya:
"Kehidupan dunia dijadikan dindah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia dari mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehedaki-Nya tanpa batas." (Al-Baqarah: 212)
Seharusnya seorang mu'min tidak boleh merasa lebih rendah dan hina. Karena, dunia ini adalah suatu yang akan musnah. Dunia ini memang dijadikan indah bagi orang-orang kafir, mereka mencurahkan seluruh hidupnya untuk dunia ini. Sementara, mukmin hanya menjadikan dunia sebagai jalan menuju ridha Allah dan sorga-Nya di akhirat kelak.
Lagi pula, bukankah menjadi seorang mukmin itu sudah merupakan suatu nikmat yang tak dapat dibandingkan dengan dunia seisinya.
Ingatlah firman Allah yang artinya, "Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajanya, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (Ali Imran: 139).

0 komentar:
Posting Komentar